Health·

6 Dokter Internship Meninggal dalam 5 Bulan, Guru Besar FKUI Soroti Sistem PIDI

6 Dokter Internship Meninggal dalam 5 Bulan, Guru Besar FKUI Soroti Sistem PIDI
Source:detik

Guru Besar FKUI menyoroti sistem Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) setelah meninggalnya 6 dokter dalam lima bulan terakhir.

Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM Prof Ari Fahrial Syam menyoroti meninggalnya enam dokter muda peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) dalam lima bulan terakhir. Ia mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola program tersebut. Ia menyebut dua dokter internship meninggal dalam beberapa hari terakhir, yakni dr M Zulfikar Drakel, MRes, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) angkatan 2025, dan dr Siti Zahra Maghfira, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas). "Enam nyawa dokter muda dalam lima bulan pada satu program pemerintah - ini bukan angka statistik. Ini adalah alarm yang tidak boleh dianggap sebagai insiden-insiden terpisah," tulis Ari dalam pernyataannya yang diterima detikcom, Rabu (29/7/2026). Ia menyebut empat dokter internship lainnya yang meninggal sebelumnya, yakni dr Kartika Ayu Permatasari di Rembang pada Februari 2026, dr Edgar Bezaliel Hartanto di Denpasar pada Maret 2026, dr Andito Mohammad Wibisono di Cianjur pada Maret 2026, dan dr Myta Aprilia Azmy di Kuala Tungkal, Jambi, pada Mei 2026. Menurut Prof Ari, rangkaian kejadian tersebut perlu menjadi bahan evaluasi terhadap penyelenggaraan PIDI. Ia menilai Kemenkes memiliki tanggung jawab besar dalam pengelolaan program tersebut. Prof Ari juga menyoroti hasil survei nasional yang dilakukan Tim Advokasi Asosiasi PIDI-PIDGI. Berdasarkan data yang ia sampaikan, asesmen awal melibatkan 2.620 dokter muda peserta internsip dari 36 provinsi, sedangkan asesmen lanjutan melibatkan 4.655 responden dari 38 provinsi. Ia menyebut survei tersebut menemukan sejumlah persoalan, di antaranya 78,1 persen peserta bekerja lebih dari 40 jam per minggu sebagian bahkan melebihi 59 jam, 73,7 persen menilai beban kerja mereka setara atau lebih berat dibandingkan dokter definitif, dan 83,4 persen menyatakan Bantuan Biaya Hidup (BBH) tidak mencukupi kebutuhan pokok. Selain itu, 62,8 persen peserta disebut menyatakan wahana internsip mereka tidak pernah dievaluasi oleh Komite Internsip Kedokteran Indonesia (KIKI). Dalam survei tersebut, hanya 11,6 persen peserta yang disebut berada dalam kondisi kerja sehat, sementara 79,1 persen mengalami moderate burnout dan 9,3 persen mengalami total burnout berat. Prof Ari menilai adanya kesenjangan antara hasil survei tersebut dengan jumlah aduan yang tercatat secara resmi perlu menjadi perhatian. Ia juga menyoroti besaran BBH yang diterima peserta program internsip. "Bandingkan pula Bantuan Biaya Hidup peserta yang di Jawa-Bali hanya Rp 3.241.200 per bulan - lebih rendah dari UMP DKI Jakarta 2025 - dengan kenaikan hanya sekitar Rp 91.000 dalam sembilan tahun terakhir, sementara inflasi kumulatif nasional telah melampaui 27 persen," ucapnya. "Sebagai perbandingan internasional, rasio BBH dokter muda kita terhadap UMP nasional hanya sekitar 91 persen, sementara di Australia mencapai 130-180 persen, Inggris 163 persen, bahkan Thailand 385-577 persen dan India 437-655 persen. Hanya Vietnam yang setara Indonesia - dan pemerintah Vietnam sendiri secara terbuka mengakui angka itu "tidak cukup" dan sedang mengkaji ulang," lanjut Prof Ari. Lebih lanjut, Prof Ari mendorong Kemenkes mengambil sejumlah langkah untuk memperbaiki tata kelola PIDI-PIDGI. Salah satunya dengan membentuk tim investigasi independen untuk menyelidiki enam kasus kematian dokter muda tersebut sekaligus melakukan audit sistemik terhadap program internsip. Ia juga mengusulkan evaluasi terhadap batas jam kerja peserta, penetapan kewenangan klinis yang terstandar secara nasional, reformulasi BBH, serta pembangunan kanal pelaporan nasional yang independen dari struktur wahana. "Kemenkes harus mendengar. Bukan sekadar membentuk forum konsultasi formalitas, tetapi benar-benar mendengar Asosiasi PIDI-PIDGI yang telah menyusun kajian empiris komprehensif, mendengar organisasi profesi, dan mendengar Ikatan Alumni FK dari seluruh Indonesia yang selama ini menyaksikan sendiri kondisi juniornya di lapangan," tulis Prof Ari. Prof Ari mengatakan Program Internsip Dokter Indonesia yang dilahirkan pada 2010 memiliki tujuan untuk memahirkan dokter muda sebelum menjalani praktik mandiri sekaligus mendistribusikan tenaga kesehatan ke berbagai wilayah. Ia berharap rangkaian kematian dokter muda tersebut dapat menjadi momentum untuk melakukan reformasi terhadap sistem internsip di Indonesia. "Kemenkes harus introspeksi. Fokus pada tugas utama. Prioritaskan yang menjadi bidangnya. PPDS biarkan berjalan di rel akademiknya bersama FK, Kolegium, KKI, dan AIPKI - jangan diintervensi berlebihan. Sementara PIDI-PIDGI, yang murni menjadi bidang tanggung jawab Kemenkes, tangani dengan segenap perhatian, sumber daya, dan komitmen yang layak," tulisnya. Simak Video "Video VN Dokter Internship di Jambi Sebelum Wafat: Aku Ga Bisa, Nggak Kuat" [Gambas:Video 20detik] (suc/kna)

This is a summary. Read the full article at the original source.

Read full article at detik