Health·

Adaptasi Vitamin D dan Dinamika Genetik

Adaptasi Vitamin D dan Dinamika Genetik

Kulit yang terang membantu tubuh memproduksi vitamin D secara lebih efisien dari paparan sinar UV yang terbatas. Karena rambut merah hampir selalu disertai dengan warna kulit yang sangat terang.

PARA peneliti juga mempertimbangkan kemungkinan bahwa beberapa karakteristik biologis terkait rambut merah memberikan keuntungan adaptif dalam kondisi lingkungan tertentu. Salah satu hipotesis yang paling sering dibahas adalah hubungan antara warna kulit terang dan efisiensi sintesis vitamin D. Di wilayah lintang tinggi dengan intensitas sinar matahari yang rendah (seperti Eropa Utara), kulit yang terang membantu tubuh memproduksi vitamin D secara lebih efisien dari paparan sinar UV yang terbatas. Karena rambut merah hampir selalu disertai dengan warna kulit yang sangat terang, muncul dugaan bahwa kombinasi sifat ini merupakan bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungan berintensitas cahaya rendah. Meski demikian, hubungannya tidak sepenuhnya sederhana. Jonathan Rees, profesor emeritus dermatologi di Universitas Edinburgh, menyebut "hipotesis vitamin D" sebagai penjelasan yang populer, tetapi bukti ilmiah langsungnya masih terus diperdebatkan. “Salah satu kendalanya adalah rambut merah bukanlah kategori biologis yang kaku, melainkan berada dalam spektrum yang luas mulai dari merah terang, tembaga, auburn, pirang kemerahan, hingga cokelat kemerahan,” ucapnya kepada Live Science. Batas fenotipe antara "rambut merah" dan warna rambut lainnya tidak selalu tegas. Karena itu, analisis genetik pada varian MC1R menjadi krusial untuk menentukan faktor risiko dan sejarah evolusinya secara akurat. Globalisasi Mengubah Frekuensi Sebaiknya Anda baca juga: Faktor lain yang memengaruhi dinamika populasi berambut merah di masa depan adalah meningkatnya mobilitas dan interaksi manusia secara global. Pada masa lalu, populasi manusia di wilayah tertentu relatif terisolasi. Masyarakat di Kepulauan Inggris, misalnya, memiliki frekuensi varian gen MC1R yang sangat tinggi. Namun, era modern mendorong migrasi dan perkawinan silang antarpopulasi dari latar belakang geografis yang beragam. Jika seseorang dari populasi berfrekuensi gen MC1R tinggi memiliki anak dengan seseorang dari populasi berfrekuensi MC1R rendah, peluang munculnya fenotipe rambut merah pada anak mereka akan menurun. Dalam jangka panjang, hal ini mungkin membuat persebaran orang berambut merah tampak lebih mencair atau terlihat semakin jarang di wilayah tertentu. Namun, menjadi lebih jarang tidak sama dengan punah. Varian gen tersebut tidak hilang, melainkan terdistribusi lebih luas di dalam gene pool global dalam bentuk resesif (heterozigot). Selama varian genetik ini tetap ada pada populasi manusia, kombinasi resesif yang menghasilkan fenotipe rambut merah akan selalu berpotensi untuk muncul kembali di masa depan. Berubah Jumlahnya, Namun Tidak Akan Hilang Jumlah orang berambut merah di dunia memang dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu akibat pola migrasi, ukuran populasi, dan dinamika sosial. Namun, perubahan frekuensi bukanlah indikator kepunahan. Agar rambut merah benar-benar lenyap dari muka bumi, bukan hanya individu berambut merah saja yang harus hilang, melainkan seluruh salinan varian gen MC1R terkait yang bersembunyi di dalam DNA para pembawa (carrier) berambut hitam, cokelat, atau pirang. Secara genetika, menghapus gen resesif yang tersebar luas adalah hal yang hampir mustahil terjadi. Oleh karena itu, rambut merah lebih tepat dipahami sebagai sifat genetik langka yang memiliki mekanisme bertahan sangat kuat dalam populasi. Keberadaannya menjadi bukti betapa kompleksnya hubungan antara genetika, lingkungan, dan evolusi manusia. hay Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda. - Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas). - Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page". Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.

This is a summary. Read the full article at the original source.

Read full article at koran_jakarta