Top·

Bakpia, produk akulturasi yang jadi ikon kuliner khas Yogyakarta

Bakpia, produk akulturasi yang jadi ikon kuliner khas Yogyakarta

Berkunjung ke Yogyakarta rasanya tak lengkap jika tidak membawa pulang setidaknya sekotak bakpia. Kue tradisional ini ...

Jakarta (ANTARA) - Berkunjung ke Yogyakarta rasanya tak lengkap jika tidak membawa pulang setidaknya sekotak bakpia. Kue tradisional ini sudah lama diklaim sebagai oleh-oleh khas kota yang berjuluk Kota Pelajar itu. Di balik kelezatannya yang akrab di lidah masyarakat Indonesia, kudapan sederhana ini sebenarnya menyimpan kisah sejarah dan akulturasi budaya. Adi, seorang pelancong yang belum lama ini berkunjung ke Yogyakarta, mengaku banyak menerima pesanan bakpia dari keluarga dan teman-temannya di Jakarta. Sembari memamerkan kotak bakpia edisi khusus yang dibelinya saat konser musik Prambanan Jazz 2026 yang digelar di pelataran Candi Prambanan, Adi mengatakan dirinya tak lupa membeli beberapa kotak bakpia untuk buah tangan. "Keluarga saya suka kue ini. Sejak dulu kami selalu membeli bakpia setiap kali berkunjung ke Yogyakarta. Rasanya kurang lengkap kalau ke Yogyakarta tanpa membeli oleh-oleh ini," ujar pemuda itu kepada Xinhua pada Senin (6/7). Sebuah studi berjudul "Bakpia: Perjalanan Akulturasi China-Indonesia dalam Makanan Khas Yogyakarta" yang ditulis oleh Martiana Noviopy Rae Rato dan Rahadjeng Pulungsari Hadi, memaparkan bahwa nama bakpia diambil dari dialek Hokkien, yaitu dari kata "bak" yang berarti daging, dan "pia" yang berarti kue atau roti. Peneliti dalam studi ini mewawancarai sejumlah narasumber pelopor bakpia di Yogyakarta. Menurut keterangan narasumber, bakpia diperkenalkan di Yogyakarta sekitar tahun 1940-an oleh seorang pria keturunan Tionghoa bernama Kwik Sun Kok. Setelah kembali dari berkunjung ke China kala itu, Kwik membuat bakpia dengan resep asli yang saat itu masih menggunakan minyak babi untuk menguleni adonan kulitnya dan daging babi sebagai isian utamanya. Karena mayoritas masyarakat Yogyakarta beragama Islam, bakpia isi daging babi awalnya kurang diminati. Kwik pun memodifikasi resepnya dengan mengganti minyak babi dengan minyak kelapa, sedangkan isian daging babi diganti dengan kacang hijau yang dihaluskan dan dicampur gula. Berkat penyesuaian ini, kudapan tersebut pun mulai diterima oleh masyarakat lokal. Pada era 1980-an, bakpia mulai populer di Yogyakarta seiring berkembangnya Kampung Pathuk sebagai sentra industri bakpia rumahan. Para perajin bakpia, yang saat itu belum mengenal sistem merek dagang modern, menggunakan nomor rumah tempat produksi bakpia mereka untuk membedakan produk mereka dari bakpia buatan produsen bakpia lain Meledaknya popularitas bakpia di kalangan masyarakat lokal juga tidak lepas dari cara pemasarannya yang unik. Kala itu, kehadiran bakpia masih tergolong baru sehingga menarik perhatian masyarakat. Para perajin bakpia dengan sukarela membagikan resepnya kepada warga sekitar, menjadikan kudapan ini sukses diterima secara luas. "Cara pemasaran yang dilakukan masyarakat Tionghoa berbeda dengan masyarakat pribumi," ujar Martiana menjelaskan temuan studinya. "Masyarakat Jawa cenderung lebih menerima keadaan, sedangkan masyarakat Tionghoa lebih aktif dalam memperkenalkan produknya. Salah satu caranya adalah dengan membagikan resep kepada orang lain sehingga semakin banyak orang dapat membuat dan menjual bakpia. Hal ini membuat bakpia semakin dikenal luas," tuturnya kepada Xinhua pada Senin yang sama. Pada 2016, meski bukan kuliner asli ciptaan masyarakat Jawa, bakpia ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). "Bakpia merupakan produk akulturasi dari kudapan China yang bertahan hingga puluhan tahun, bahkan kemudian menjadi ikon Yogyakarta. Bakpia menjadi simbol pluralisme di kota tersebut. Kudapan dari kaum minoritas yang dikenal menggunakan bahan yang tidak dapat diterima oleh kaum mayoritas ini mampu melakukan kompromi, dan kemudian tidak hanya diterima tetapi juga dicintai. Keluwesan warga kota Yogyakarta menerima perbedaan sungguh terbukti dalam hal ini," demikian bunyi keterangan di dalam situs resmi Dinas Kebudayaan DIY. Saat ini, bakpia telah bertransformasi jauh melampaui ragam dan metode tradisionalnya. Dari yang semula hanya memiliki satu varian rasa, yakni kacang hijau, bakpia kini dibuat dengan berbagai varian rasa inovatif yang banyak ditemui di pasaran, seperti rasa cokelat, keju, durian, dan matcha. Para perajin bakpia pun kini tidak hanya menggunakan tungku arang tradisional untuk memproduksi bakpia mereka. Oven menjadi pilihan alat produksi yang lebih modern. Selain itu, metode pembuatan bakpia kini tidak hanya dipanggang. Bakpia kukus kini hadir sebagai varian yang juga tak kalah digemari. Perjalanan bakpia memperlihatkan bagaimana benturan dua budaya tidak selalu melahirkan konflik, melainkan harmoni yang terwujud dalam kreasi kuliner. Pewarta: Xinhua Editor: Santoso Copyright © ANTARA 2026 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

This is a summary. Read the full article at the original source.

Read full article at antaranews