Top·

Beban Pembiayaan Pemerintah dan Dunia Usaha Berpotensi Melonjak

Beban Pembiayaan Pemerintah dan Dunia Usaha Berpotensi Melonjak

JAKARTA - Peluang Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini masih terbuka, meski inflasi pada Juni di negara ekonomi terbesar dunia itu mencatat penurunan bulanan pertama sejak 2020.

Beban Pembiayaan Pemerintah dan Dunia Usaha Berpotensi Melonjak 📅 Selasa, 21 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi» » Penghematan anggaran penting agar pemerintah dan otoritas moneter memiliki cukup ruang bermanuver dalam menjaga stabilitas ekonomi. » » Stabilitas nilai tukar, pasar keuangan, hingga ruang fiskal nasional menjadi semakin rentan terhadap gejolak eksternal. JAKARTA - Peluang Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini masih terbuka, meski inflasi pada Juni di negara ekonomi terbesar dunia itu mencatat penurunan bulanan pertama sejak 2020. Data tersebut sempat meredakan kekhawatiran pasar dan mendorong investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Juli. Gubernur The Fed, Kevin Warsh menegaskan inflasi yang masih bertahan di atas target 2 persen selama lima tahun terakhir tetap menjadi perhatian utama bank sentral AS. Kondisi tersebut membuat ruang bagi The Fed untuk kembali memperketat kebijakan moneter pada sisa tahun ini masih terbuka. Sebaiknya Anda baca juga: Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata yang diminta tanggapannya menilai peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed masih cukup besar, terutama menjelang akhir 2026. Menurut dia, penurunan inflasi di AS belum dapat dijadikan dasar bahwa tekanan harga benar-benar mereda. Bank sentral AS masih membutuhkan bukti bahwa inflasi terus menurun secara konsisten sebelum memutuskan mengubah arah kebijakan moneternya. “Penurunan inflasi masih memerlukan bukti berkelanjutan. Sementara itu, sumber tekanan inflasi masih ada, salah satunya ketidakpastian akibat konflik di kawasan Teluk yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir,” kata Aloysius. Sebaiknya Anda baca juga: Apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga, dampaknya tidak hanya dirasakan perekonomian AS, tetapi juga negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Suku bunga yang lebih tinggi di AS akan membuat aset berdenominasi dollar menjadi lebih menarik sehingga berpotensi menahan arus modal masuk ke Indonesia. “Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan membuat ekonomi nasional masih berada dalam bayang-bayang instabilitas, terutama di sektor keuangan dan pasar modal,” katanya. Aloysius mengatakan pemerintah dan otoritas moneter perlu mengantisipasi kemungkinan tersebut dengan menjaga ruang kebijakan agar tetap memadai jika tekanan eksternal meningkat. Menurut dia, Indonesia juga perlu berhati-hati dalam menggunakan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Penggunaan cadangan devisa yang terlalu agresif dikhawatirkan akan mengurangi ruang kebijakan apabila tekanan di pasar keuangan berlangsung lebih lama. “Karena itu, penghematan anggaran menjadi semakin penting agar pemerintah dan otoritas moneter memiliki ruang manuver yang cukup dalam menjaga stabilitas ekonomi. Langkah tersebut juga dapat membantu menghindari kebutuhan menaikkan suku bunga acuan Bank Indonesia secara berlebihan,” kata Aloysius. Dengan demikian, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional apabila siklus pengetatan moneter global kembali berlanjut pada paruh kedua tahun ini. Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda. - Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas). - Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page". Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.

This is a summary. Read the full article at the original source.

Read full article at koran_jakarta