Dikirim ke Penjara El Salvador, Korban Deportasi Trump Gugat Perusahaan AS
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3230039/original/073454500_1599392649-20200906-Penjara-El-Salvador-5.jpg)
Warga Venezuela menggugat perusahaan penerbangan AS atas deportasi ke penjara El Salvador.
Liputan6.com, Caracas - Sejumlah pria asal Venezuela yang dikirim ke penjara terorisme terkenal di El Salvador oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tahun lalu menggugat perusahaan penerbangan AS yang mengangkut mereka. Dikutip dari The Guardian, Senin (27/7/2026), gugatan yang diajukan pekan ini di pengadilan federal di Washington DC menuduh perusahaan CSI Aviation dan GlobalX melanggar hak-hak sipil para warga Venezuela tersebut. Mereka juga dituduh melakukan penahanan ilegal, menyebabkan tekanan emosional secara sengaja, kelalaian, serta berbagai pelanggaran lainnya karena peran mereka dalam mengoperasikan tiga penerbangan yang membawa para pria itu ke El Salvador. Advertisement Dalam gugatan tersebut disebutkan bahwa CSI dan GlobalX "melakukan berbagai upaya besar" untuk menjalankan penerbangan pemindahan tahanan ke El Salvador dengan bekerja sama bersama pemerintah AS, yang dinilai melanggar hukum AS dan internasional. Pada Maret tahun lalu, pemerintahan Trump mengusir lebih dari 230 pria asal Venezuela yang berada dalam tahanan imigrasi AS ke El Salvador. Mereka kemudian ditahan selama empat bulan di pusat penahanan keamanan maksimum untuk kasus terorisme yang dikenal sebagai Terrorism Confinement Center (CECOT). Gugatan tersebut menyatakan bahwa CSI dan GlobalX dengan sengaja membawa para pria itu ke El Salvador, meskipun seorang hakim federal telah memerintahkan agar penerbangan tersebut kembali ke AS. Perusahaan-perusahaan itu juga dituduh mengetahui bahwa para tahanan kemungkinan akan mengalami penyiksaan di CECOT. "Tanpa keterlibatan CSI dan GlobalX, baik para penggugat maupun kelompok yang mereka wakili tidak akan dikirim ke CECOT," demikian isi gugatan tersebut. Gugatan itu diajukan pada 17 Juli oleh tim pengacara hak asasi manusia dan menjadi salah satu upaya terbaru kelompok pembela HAM untuk meminta pertanggungjawaban kontraktor swasta atas dugaan pelanggaran yang muncul dari kebijakan keras pemerintahan Trump terhadap imigrasi. Anthony Enriquez, wakil presiden bidang advokasi dan litigasi di Kennedy Human Rights Center sekaligus salah satu pengacara yang mewakili para pria Venezuela tersebut, mengatakan banyak orang mungkin tidak menyadari sejauh mana perusahaan swasta terlibat dalam dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang berkaitan dengan penahanan dan deportasi. Menurut gugatan, CSI dan GlobalX yang disewa oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) memperoleh keuntungan finansial besar dari skema tersebut, sementara para warga Venezuela yang dideportasi masih mengalami penderitaan emosional akibat penghinaan, ketakutan, dan perlakuan kejam yang mereka alami. DHS tidak memberikan tanggapan spesifik terkait tuduhan dalam gugatan tersebut dan mengarahkan seluruh pertanyaan kepada pemerintah El Salvador. CSI dan GlobalX juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Pemerintah El Salvador tidak melakukan upaya untuk membantah secara terbuka tuduhan mengenai perlakuan brutal di dalam CECOT. Sebaliknya, para influencer daring diundang untuk membuat video yang memperlihatkan kondisi keras di dalam fasilitas tersebut. Peran Perusahaan dalam Penerbangan Deportasi CSI Aviation Inc berbasis di Texas, sementara GlobalX berkantor pusat di Florida. Kedua perusahaan disebut memiliki peran penting dalam kampanye deportasi massal pemerintahan AS. Menurut gugatan, pemerintah AS menyewa kedua perusahaan tersebut untuk menjalankan penerbangan deportasi menuju El Salvador. CSI disebut membantu mengatur "hampir seluruh" penerbangan deportasi melalui kontrak bernilai jutaan dolar dengan Immigration and Customs Enforcement (ICE), lembaga utama di bawah DHS yang menangani deportasi. Dalam tiga penerbangan menuju El Salvador, CSI disebut menggunakan GlobalX sebagai perusahaan subkontraktor, dengan CSI berperan sebagai perantara antara ICE dan GlobalX. Pada 15 Maret tahun lalu, Donald Trump menggunakan Alien Enemies Act sebagai dasar untuk mengusir ratusan imigran Venezuela dari AS. Trump menuduh pemerintah Venezuela, yang saat itu dipimpin Nicolás Maduro, menginstruksikan anggota geng Amerika Selatan Tren de Aragua untuk "menyerang" AS. Setelah undang-undang tersebut digunakan, pemerintahan Trump menangkap 252 pria asal Venezuela dan El Salvador yang berada dalam tahanan ICE, lalu mengirim mereka ke El Salvador. Langkah itu dilakukan setelah AS dan El Salvador mencapai kesepakatan kontroversial yang tidak banyak diketahui publik, di mana AS akan membayar jutaan dolar kepada El Salvador untuk menahan para deportan dari AS di CECOT. Namun, pemerintahan AS tidak pernah membuktikan bahwa para pria Venezuela tersebut merupakan anggota Tren de Aragua. Pada hari yang sama ketika Alien Enemies Act diberlakukan, gugatan menyebut GlobalX, atas permintaan CSI, menempatkan tiga pesawat di sebuah bandara di Texas sebagai persiapan penerbangan deportasi. Setelah pesawat berangkat menuju Amerika Tengah, seorang hakim federal di Washington DC memerintahkan agar penerbangan tersebut kembali ke AS. Namun, pemerintahan AS dan perusahaan penerbangan mengabaikan perintah tersebut hingga akhirnya pesawat tiba di El Salvador. Advertisement Tuduhan Penyiksaan di CECOT Menurut gugatan, para pria Venezuela baru mengalami kengerian sebenarnya setelah tiba di El Salvador. Banyak dari mereka awalnya mengira telah kembali ke Venezuela. Pasukan keamanan El Salvador disebut menaiki pesawat, memukuli para deportan, lalu membawa mereka ke CECOT. Laporan Human Rights Watch pada November 2025 menyebut para pria tersebut mengalami apa yang disebut sebagai penahanan sewenang-wenang dan penghilangan paksa menurut hukum hak asasi manusia internasional. Laporan tersebut dan gugatan juga merinci dugaan kondisi brutal serta penyiksaan di CECOT, termasuk tuduhan bahwa penjaga memukuli tahanan, menyemprotkan gas merica, menembakkan peluru karet, serta melakukan pelecehan seksual. Penahanan para imigran tersebut memicu protes dari anggota parlemen, keluarga, dan masyarakat. Sejumlah laporan media kemudian mengungkap identitas beberapa pria yang ditahan dan menunjukkan bahwa sebagian dari mereka diduga dituduh sebagai anggota geng secara keliru. Empat bulan kemudian, pada Juli 2025, kelompok warga Venezuela tersebut dikembalikan ke negara asal mereka melalui kesepakatan pertukaran tahanan yang melibatkan tiga negara. Sementara itu, kelompok warga El Salvador yang juga dikirim ke CECOT dalam penerbangan yang sama masih diduga tetap berada di sana. Hingga saat ini, pemerintah AS belum merilis seluruh daftar orang yang dikirim ke CECOT. Gugatan tersebut menyatakan para pria Venezuela masih mengalami dampak kesehatan jangka panjang dan trauma mental. Tiga penggugat utama dalam kasus itu disebut mengalami sakit kepala setiap hari, kesulitan tidur, dan tekanan emosional akibat pengalaman yang mereka alami. CSI dan GlobalX belum memberikan tanggapan atas gugatan tersebut. Hakim federal James Boasberg, yang menangani kasus awal deportasi ke CECOT, akan mengawasi proses gugatan ini dan menentukan apakah seluruh kelompok warga Venezuela tersebut dapat mengajukan tuntutan secara bersama.
This is a summary. Read the full article at the original source.
Read full article at liputan6
