Hamas Tunjuk Khalil al-Hayya sebagai Pemimpin Baru
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302546/original/010891100_1784591305-Untitled.jpg)
Khalil al-Hayya disebut figur yang kian sentral dalam kepemimpinan Hamas sejak Yahya Sinwar dan Ismail Haniyeh tewas.
Liputan6.com, Gaza - Hamas resmi menunjuk tokoh senior mereka, Khalil al-Hayya, sebagai pemimpin baru. Keputusan ini diumumkan langsung oleh kelompok Palestina tersebut pada hari Senin (20/7/2026). Al-Hayya, sosok veteran di internal Hamas, menggantikan mendiang Yahya Sinwar yang tewas pada 17 Oktober 2024 setelah terlibat kontak senjata langsung dengan militer Israel di Rafah, Gaza Selatan. Kepergian Sinwar menyusul peristiwa pembunuhan pemimpin Hamas sebelumnya, Ismail Haniyeh, oleh Israel di Teheran, Iran, pada Juli 2024. Pasca-kematian Sinwar, Hamas sempat memilih untuk tidak menunjuk satu pemimpin tunggal, melainkan membentuk kabinet yang terdiri dari lima pimpinan di bawah komando Muhammad Ismail Darwish, Ketua Dewan Syura Hamas. Advertisement Selama ini, Al-Hayya dikenal sebagai salah satu pimpinan puncak Hamas yang berbasis di luar negeri sekaligus tokoh sentral dalam berbagai proses negosiasi selama tiga tahun terakhir. Terkait sosok Al-Hayya, ia tercatat pernah menjadi target upaya pembunuhan oleh Israel di Doha pada September tahun lalu. Kala itu, sumber yang dekat dengan gerakan Palestina tersebut menuturkan kepada Middle East Eye bahwa seluruh pemimpin senior yang menjadi target, termasuk Al-Hayya, Khaled Meshal, dan Zaher Jabarin, berhasil selamat. Namun, serangan tersebut merenggut nyawa putra Al-Hayya, Hammam al-Hayya, serta direktur kantornya, Jihad Lubbad. Sejumlah pihak lainnya juga mengalami luka-luka. Lahir di Gaza pada 1960, Al-Hayya dikabarkan pertama kali bertemu pendiri Hamas, Syekh Ahmed Yassin, pada 1980—tujuh tahun sebelum organisasi tersebut resmi terbentuk. Sebagai salah satu perintis sayap politik Hamas, ia sempat memegang berbagai posisi di serikat mahasiswa maupun pekerja, sebelum akhirnya terpilih sebagai anggota Dewan Legislatif Palestina (PLC) pada 2006. Pada 2007, Israel pernah melancarkan upaya pembunuhan terhadapnya. Meski ia selamat, serangan tersebut menewaskan sejumlah anggota keluarganya, termasuk istri dan tiga anaknya. Sejak saat itu, Al-Hayya memegang peranan vital dalam berbagai perundingan gencatan senjata dengan Israel, baik dalam perang tahun 2014 maupun selama genosida yang berlangsung sejak Oktober 2023. Di level diplomasi, ia menjadi sosok kunci dalam upaya normalisasi hubungan dengan pemerintah Suriah pada 2022, setelah sempat merenggang akibat gejolak Musim Semi Arab dan perang saudara di negara tersebut.
This is a summary. Read the full article at the original source.
Read full article at liputan6
