Health·

Kata Studi, Kalimat yang Sering Diucapkan Seperti Ini Berkaitan dengan IQ Rendah

Kata Studi, Kalimat yang Sering Diucapkan Seperti Ini Berkaitan dengan IQ Rendah
Source:detik

Terdapat sejumlah kalimat yang disebut berkaitan dengan IQ rendah. Seperti apa? Ini penjelasan studi.

IQ atau Intelligence Quotient merupakan skor yang umumnya diperoleh melalui tes yang mencakup kemampuan matematika, bahasa, dan memori. Skor IQ digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif seseorang, seperti pemecahan masalah, berpikir kompleks, penalaran, dan pemahaman verbal. Namun, kecerdasan seseorang tidak hanya dapat dilihat dari hasil tes. Pilihan kata dan cara seseorang mengekspresikan pikirannya juga dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan intelektualnya. Meski demikian, IQ rendah tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak memiliki ketekunan, kreativitas, atau kemampuan untuk membangun hubungan yang sehat. Namun, kondisi tersebut disebut dapat berpengaruh terhadap keterampilan sosial dasar. Dikutip dari Yourtango, mulai dari meragukan kemampuan diri sendiri hingga tidak memiliki rencana untuk masa depan, sejumlah kalimat tertentu disebut lebih sering diucapkan oleh orang dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah. Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang kesulitan terhubung dengan orang lain dan membangun hubungan yang bermakna. Berikut sejumlah kalimat yang disebut kerap diucapkan oleh orang dengan IQ rendah: 1. "Aku tidak tahu apa yang kuinginkan" Kesadaran diri dan introspeksi memang banyak berkaitan dengan kecerdasan emosional. Namun, kemampuan kognitif dan proses berpikir juga diperlukan untuk menetapkan tujuan serta memahami kebutuhan dan keinginan diri sendiri. Ketika menghadapi ketidakpastian, seseorang yang memiliki kemampuan kognitif lebih rendah disebut cenderung kesulitan mengambil waktu untuk mempertimbangkan berbagai pilihan. Mereka akhirnya merasa bingung dan mengatakan bahwa dirinya tidak benar-benar tahu apa yang diinginkan. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Intelligence menunjukkan, kemampuan melakukan refleksi terhadap diri sendiri dapat berperan dalam berbagai situasi, termasuk hubungan romantis dan lingkungan kerja bersama. Kesulitan dalam melakukan refleksi diri dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam membangun keterampilan sosial dasar dan hubungan yang sehat. 2. "Aku tidak mungkin bisa melakukan itu" Kalimat seperti "Aku tidak akan sanggup melakukannya" atau "Mustahil bagiku untuk mencapai itu" disebut sering muncul pada orang dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah. Mereka disebut cenderung kesulitan memahami potensi diri sendiri, terutama ketika tidak memiliki pengalaman akademis atau dorongan yang dapat meningkatkan kepercayaan diri. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology membahas hubungan antara pola pikir seseorang dan keberhasilan akademis. Studi tersebut menunjukkan bahwa growth mindset atau pola pikir berkembang tidak selalu berpengaruh terhadap kemampuan intelektual. Namun, pola pikir tetap atau fixed mindset berpotensi menghambat seseorang dalam mencapai tujuan dan cita-citanya. Jika seseorang sejak awal tidak yakin bahwa suatu tujuan dapat dicapai, ia tentu akan lebih sulit berusaha untuk mewujudkannya. Sebaliknya, orang dengan kemampuan kognitif lebih tinggi disebut cenderung mampu menyusun strategi untuk mencapai tujuan yang tampak sulit atau bahkan mustahil. 3. "Apa jawaban yang benar?" Seseorang dengan IQ rendah disebut lebih sering berfokus pada mencari jawaban yang benar dibandingkan menikmati proses mempelajari sesuatu yang baru. Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Psychological Assessment, terdapat kemungkinan hubungan antara rendahnya rasa ingin tahu intelektual dan perilaku eksploratif pada orang dengan IQ lebih rendah. Hal tersebut dapat membuat seseorang kurang nyaman berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Sifat terbuka terhadap berbagai sudut pandang (open-mindedness) diketahui berkaitan dengan kemampuan kognitif dan rasa ingin tahu. Karena itu, orang dengan kemampuan kognitif lebih rendah disebut cenderung lebih tertutup terhadap proses pencarian pengetahuan dan lebih berfokus pada hasil akhir yang dianggap benar. 4. "Langsung ke intinya" Sejumlah pengalaman menunjukkan bahwa orang dengan kemampuan kognitif lebih rendah dapat merasa kurang nyaman dalam situasi sosial tertentu, terutama ketika berada dalam percakapan atau diskusi yang dianggap terlalu kompleks. Dalam kondisi tersebut, kalimat seperti "langsung ke intinya" dapat digunakan sebagai bentuk pertahanan diri untuk menghindari rasa tidak nyaman, bukan semata-mata karena merasa kesal dengan lawan bicara. Sebuah penelitian pada 2020 yang mengamati tren kesehatan mental pada individu dengan tingkat IQ berbeda menemukan bahwa orang dengan IQ yang tergolong rendah lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental dibandingkan mereka yang memiliki skor lebih tinggi. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan rasa tidak aman, kecemasan, dan sikap defensif. 5. "Ada sesuatu yang kurang" Orang dengan kemampuan kognitif lebih rendah tetap dapat memiliki kemampuan memahami emosi dan perasaan orang lain. Namun, sebagian dari mereka disebut lebih sering mempertanyakan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Kesulitan dalam membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat juga dapat membuat seseorang merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Penelitian yang diterbitkan dalam Psychological Medicine menemukan bahwa individu dengan skor IQ lebih rendah melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dibandingkan mereka dengan skor lebih tinggi. Hal ini antara lain dikaitkan dengan hubungan antara kemampuan intelektual, tingkat pendapatan, gangguan kesehatan mental, serta kondisi sosial dan ekonomi.

This is a summary. Read the full article at the original source.

Read full article at detik