KPR Kehilangan Momentum, Daya Beli Lemah Tekan Pertumbuhan Kredit Perumahan

Pertumbuhan KPR terus melambat hingga pertengahan 2026. Daya beli yang lemah dan tingginya suku bunga masih menekan permintaan rumah.
Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) perbankan terus kehilangan momentum hingga pertengahan 2026 dan diperkirakan masih akan melambat sampai akhir tahun. Tingginya suku bunga, lemahnya daya beli masyarakat, serta kendala di sisi pasokan dan penyaluran kredit menjadi faktor utama yang menahan laju pembiayaan sektor perumahan. Data analisis uang beredar Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan KPR industri perbankan hanya mencapai 4,7% secara tahunan (yoy) pada Mei 2026, turun dari 5,5% pada Januari. Perlambatan ini juga tercermin pada kinerja PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Hingga Juni 2026, outstanding KPR BTN tumbuh 5,8% yoy menjadi Rp 309,94 triliun, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sebelumnya sebesar 7,4%. Baca Juga: Membedah Risiko dan Dampak Fraud KPR ke Perbankan Dari total tersebut, KPR nonsubsidi hanya naik 2%, sedangkan KPR subsidi tumbuh 8,1%. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu mengatakan perlambatan KPR di pasar primer dipengaruhi kendala pasokan akibat persoalan perizinan lahan di sejumlah daerah, termasuk Jawa Barat. Selain itu, permintaan rumah, terutama pada segmen harga di atas Rp 1 miliar, juga belum menunjukkan pemulihan. "Permintaan juga belum pulih sepenuhnya, terutama untuk rumah di segmen harga di atas Rp 1 miliar yang masih relatif stagnan," ujar Nixon, Kamis (17/7). Untuk menjaga pertumbuhan pembiayaan, BTN memperluas penetrasi ke pasar rumah seken melalui kerja sama dengan platform digital seperti Pinhome dan Rumah123. Strategi ini mencakup pembiayaan pembelian rumah bekas yang telah direnovasi, renovasi rumah, hingga perluasan bangunan. BTN tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit sebesar 8%-10% hingga akhir 2026. Baca Juga: OJK: Pertumbuhan KPR Single Digit Cerminkan Kehati-hatian Perbankan Di sisi lain, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) masih mencatat pertumbuhan pembiayaan griya. Hingga Mei 2026, portofolio pembiayaan griya BSI mencapai Rp 60,8 triliun, meningkat 3,2% dibandingkan Rp 58,96 triliun pada Juni 2025. BSI menilai kebutuhan masyarakat terhadap hunian dan dukungan program pemerintah masih menjadi penopang permintaan pembiayaan rumah berbasis syariah. Namun, ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy memperkirakan perlambatan KPR masih akan berlanjut hingga akhir tahun. Menurut dia, tingginya suku bunga, melemahnya daya beli masyarakat, serta meningkatnya kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit akan terus membatasi pertumbuhan pembiayaan sektor perumahan. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
This is a summary. Read the full article at the original source.
Read full article at kontan_co_id
