Pakar Beberkan Rahasia Merek Bertahan Puluhan Tahun di Tengah Persaingan Ketat

Apa yang membuat sebuah merek mampu bertahan puluhan tahun? Konsistensi, inovasi, dan kepercayaan konsumen menjadi kunci menghadapi persaingan yang terus berubah.
- CEO Frontier Handi Irawan Djuwadi menyatakan kepercayaan konsumen menjadi aset berharga bagi merek untuk bertahan jangka panjang. - Konsep Respectful Brand dibangun melalui kualitas produk, konsistensi pelayanan, integritas bisnis, dan inovasi yang relevan bagi pelanggan. - Survei Top Brand Index di 15 kota besar mengukur kekuatan merek berdasarkan kesadaran, penggunaan terakhir, serta niat penggunaan ulang. Suara.com - Di tengah banjir pilihan produk dan layanan, konsumen kini tak lagi sekadar membeli karena nama besar sebuah merek. Mereka juga mencari brand yang konsisten memberikan pengalaman positif, memiliki reputasi baik, dan mampu membangun hubungan emosional dengan pelanggannya. Fenomena ini menunjukkan bahwa loyalitas konsumen tidak lahir hanya dari iklan yang masif atau promosi besar-besaran. Kepercayaan justru menjadi aset paling berharga bagi sebuah merek untuk bertahan dalam persaingan yang semakin ketat. CEO Frontier sekaligus Founder Top Brand Award, Handi Irawan Djuwadi, menyebut bahwa merek yang mampu bertahan dalam jangka panjang adalah merek yang berhasil mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan dari konsumennya. Menurutnya, perjalanan sebuah brand tidak berhenti ketika sudah dikenal luas. Setelah dikenal, disukai, dan dipilih, tantangan berikutnya adalah menjadi merek yang benar-benar dihargai bahkan "dipuja" oleh konsumennya. "Rasa puja tidak bisa dibeli dengan iklan, promosi, atau media sosial semata. Ia tumbuh dari kualitas, konsistensi, inovasi, dan engagement yang kuat dengan pelanggan," kata Handi. Konsep tersebut dikenal sebagai Respectful Brand, yakni kondisi ketika sebuah merek berhasil membangun hubungan emosional yang kuat melalui kualitas produk, pelayanan yang konsisten, integritas bisnis, hingga kemampuan menghadirkan inovasi yang relevan. Pendekatan ini dinilai semakin penting di era digital ketika konsumen dapat dengan mudah membandingkan berbagai produk sekaligus membagikan pengalaman mereka kepada publik. Tak heran, kekuatan sebuah merek kini juga menjadi bagian penting dari nilai perusahaan. Dalam dunia bisnis modern, aset tak berwujud seperti ekuitas merek berperan besar dalam meningkatkan daya saing, menarik investor, hingga mendukung berbagai keputusan strategis, mulai dari kerja sama bisnis, lisensi, hingga akuisisi. Untuk mengukur kekuatan sebuah merek, salah satu indikator yang banyak digunakan di Indonesia adalah Top Brand Index (TBI). Penilaiannya dilakukan melalui survei independen yang mengukur tiga aspek utama, yakni tingkat merek yang pertama kali diingat konsumen (top of mind awareness), merek yang terakhir digunakan (last usage), serta niat konsumen untuk kembali menggunakan merek tersebut (future intention). Survei tersebut melibatkan responden dari 15 kota besar di Indonesia dan mencakup lebih dari 350 kategori produk serta layanan. Hasilnya menunjukkan bahwa merek yang mampu mempertahankan kepercayaan konsumen secara konsisten cenderung memiliki loyalitas yang lebih kuat dibanding sekadar mengandalkan popularitas. Kenalkan The Purple Box Pada kesempatan ini, Top Brand Award juga memperkenalkan The Purple Box, sebuah simbol yang merepresentasikan perjalanan dan pencapaian tertinggi brand-brand terbaik di Indonesia. Terinspirasi dari konsep red ocean yang menggambarkan ketatnya persaingan bisnis serta blue ocean yang melambangkan inovasi dan penciptaan nilai baru. Lebih dari sekadar kemasan eksklusif, The Purple Box menjadi simbol atas dedikasi, konsistensi, dan komitmen yang telah dibangun sebuah merek selama bertahun-tahun. Melalui The Purple Box, Top Brand Award ingin memberikan makna lebih mendalam bahwa sebuah brand tidak hanya berhasil meraih posisi terdepan di pasar, tetapi juga mampu mempertahankan kepercayaan pelanggan dan terus beradaptasi menghadapi perubahan.
This is a summary. Read the full article at the original source.
Read full article at suara
