Pengamat: Komunikasi digital butuh kedewasaan bedakan informasi

Pengamat Komunikasi Digital Laju Institute, Mandra Pradipta mengatakan komunikasi di ruang digital membutuhkan ...
Jakarta (ANTARA) - Pengamat Komunikasi Digital Laju Institute, Mandra Pradipta mengatakan komunikasi di ruang digital membutuhkan kedewasaan dalam membedakan informasi kritik, sanggahan, serangan pribadi dan penghinaan. Dalam komunikasi klasik bahwa setiap informasi yang disebar dapat diterima tanpa perlu pembuktian (aksioma), menurut dia, sudah tidak berlaku lagi, dan saat ini diperlukan aksioma baru dalam komunikasi digital. "Masalah komunikasi digital hari ini bukan hanya banyaknya informasi, tetapi lemahnya pegangan dasar dalam memperlakukan informasi itu," kata Dipta sapaan akrab Pradipta, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu. Dia mengatakan masyarakat tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi juga perlu memiliki pegangan dasar dalam memperlakukan informasi, perbedaan, dan interaksi di ruang digital. Baca juga: Menkomdigi tekankan pentingnya penguatan ekosistem digital Dia menjelaskan aksioma dapat dipahami sebagai prinsip awal yang menjadi pijakan berpikir sebelum seseorang membangun pandangan, mengambil sikap, atau merespon suatu peristiwa yang tersaji di ruang digital, baik internet maupun media sosial media. Dalam konteks komunikasi digital, kata dia, aksioma diperlukan agar publik memiliki tata nalar dalam menilai informasi dan tidak mudah terserat oleh reaksi spontan. Perkembangan teknologi saat ini, menurut dia, membuat setiap orang memiliki kemampuan untuk berbicara, menilai dan menyebarkan pesan dalam waktu singkat. Namun, kata dia, kemudahan tersebut tidak selalu diikuti oleh kesadaran mengenai batas etis dan tanggung jawab komunikasi. Oleh karena itu, salah satu aksioma penting dalam komunikasi digital saat ini adalah bahwa informasi hanya sebagai suatu yang cepat diterima atau cepat disebarkan. Baca juga: 92 persen pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia gunakan AI Menurut dia, informasi perlu diuji, dipahami konteksnya, serta dipertimbangkan dampaknya sebelum menjadi dasar penilaian publik. "Kecepatan menyebarkan pesan tidak boleh lebih dominan daripada kemampuan memeriksa dan mempertanggungjawabkan pesan tersebut," ujarnya. Dia menekankan pentingnya membangun kompas berpikir dalam menghadapi perbedaan. Ruang digital sering kali membuat ketidaksepakatan berubah menjadi pertentangan personal karena publik tidak memiliki prinsip dasar dalam mengelola perbedaan pandangan. Perbedaan, lanjut dia, seharusnya dipahami sebagai bagian wajar dari kehidupan sosial. Oleh karena itu, komunikasi digital membutuhkan kedewasaan untuk membedakan kritik, sanggahan, serangan pribadi, dan penghinaan. "Tidak semua ketidaksepakatan harus dibalas dengan permusuhan. Dalam komunikasi digital, kemampuan membatasi diri sering kali sama pentingnya dengan kemampuan menyampaikan pendapat," terangnya. Dia juga menekankan bahwa teknologi tidak boleh menjadi alasan untuk melepaskan tanggung jawab manusia. "Algoritma memang dapat mempengaruhi apa yang dilihat dan diperhatikan publik, tetapi keputusan untuk mempercayai, membagikan atau menyerang tetap berada pada manusia," ujarnya. Menurutnya, aksioma komunikasi digital perlu mengembalikan tanggung jawab tersebut kepada pengguna. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen arus informasi, tetapi juga subjek yang mampu berpikir memilah, dan bertindak secara sadar. "Teknologi dapat mempercepat percakapan, tetapi manusia tetap harus menentukan batas, arah, dan tanggung jawab dari percakapan itu," tuturnya. Baca juga: Peneliti: Algoritma jadi aktor baru dalam komunikasi politik digital Dipta berharap masyarakat mulai memandang komunikasi digital bukan hanya sebagai aktivitas teknis, melainkan sebagai praktik sosial yang membutuhkan prinsip. Tanpa aksioma yang jelas, kata dia, ruang digital mudah berubah menjadi tempat reaksi spontan, saling curiga dan pertukaran pesan yang kehilangan kendali. "Komunikasi digital membutuhkan lebih dari sekedar keterampilan memakai platform. Kita membutuhkan aksioma baru agar percakapan publik memiliki pegangan, arah, dan tanggung jawab," ujarnya. Baca juga: Kemenbud-Komdigi dorong ekosistem digital berbasis budaya nasional Baca juga: Wamenkomdigi: Algoritma jadi bentuk baru penjajahan digital Pewarta: Laily Rahmawaty Editor: La Ode Masrafi Copyright © ANTARA 2026
This is a summary. Read the full article at the original source.
Read full article at antaranews
