Petani Gorontalo Mulai Waspadai Kemarau, Tak Ingin Gagal Panen 2023 Terulang
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KEMARAU-Petani-Yakob-Laginda-menceritakan-kondisi-sawah.jpg)
Matahari sore masih terasa terik ketika angin berembus pelan di hamparan sawah Kelurahan Dembe II, Kecamatan Kota Utara, Sabtu (18/7/2026).
Petani Gorontalo Mulai Waspadai Kemarau, Tak Ingin Gagal Panen 2023 Terulang Matahari sore masih terasa terik ketika angin berembus pelan di hamparan sawah Kelurahan Dembe II, Kecamatan Kota Utara, Sabtu (18/7/2026). Ringkasan Berita: - Musim kemarau mulai dirasakan petani di Kota Gorontalo, terutama ketika tanaman padi memasuki fase pembentukan bulir yang membutuhkan pasokan air melimpah. - Pengalaman gagal panen akibat kekeringan pada 2023 membuat sebagian petani kini lebih waspada dan berharap ada solusi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air. - Di sisi lain, petani di Kabupaten Gorontalo mengaku kondisi sawah mereka masih relatif aman berkat pasokan irigasi yang masih mencukupi. TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Matahari sore masih terasa terik ketika angin berembus pelan di hamparan sawah Kelurahan Dembe II, Kecamatan Kota Utara, Sabtu (18/7/2026). Di beberapa petak sawah mulai tampak retakan tanah, menjadi tanda berkurangnya pasokan air seiring berlangsungnya musim kemarau. Bagi para petani, perubahan itu bukan sekadar pemandangan biasa. Mereka mulai dihantui kekhawatiran karena tanaman padi saat ini memasuki fase primordia, yakni masa awal pembentukan bakal bulir yang sangat membutuhkan ketersediaan air. Baca juga: Jelang Final Piala Dunia 2026, Wisatawan Hiu Paus Botubarani Gorontalo Kompak Dukung Tim Ini Yakob Laginda (41), salah seorang petani di kawasan tersebut, mengatakan kondisi sekarang mengingatkannya pada musim kemarau 2023 ketika banyak sawah mengalami kekeringan. Menurutnya, pada fase primordia, kekurangan air dapat berdampak langsung terhadap pembentukan bulir dan hasil panen. "Kami mulai merasakan sulitnya mendapatkan air karena musim kemarau. Karena umur padi sudah masuk masa primordia, maka harus benar-benar butuh pasokan air," ujarnya. Pengalaman tiga tahun lalu masih membekas di ingatan para petani. Saat itu, mereka harus bergantian mengambil air untuk mengairi sawah, sementara sebagian lahan tidak mampu bertahan hingga akhirnya gagal panen. "Pengalaman di 2023, karena kekeringan pasti kami berebutan ambil airnya," katanya. Yakob berharap situasi serupa tidak kembali terjadi pada musim tanam kali ini. Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan sumber air alternatif agar petani tidak hanya bergantung pada jaringan irigasi. Menurutnya, pembangunan sumur suntik dapat menjadi salah satu solusi ketika debit air di saluran irigasi mulai menurun saat musim kemarau. "Harapannya ada sumur suntik, sehingga itu mempermudah ketika ada kemarau berikutnya," ungkapnya. | Dampak Musim Kemarau di Gorontalo, Debit Air Sungai Bulango Mulai Berkurang | |---| | Dampak Musim Kemarau, Petani Bone Bolango Gorontalo Resah Produksi Beras Turun | |---| | Kemarau Panjang Bikin PDAM Muara Tirta Kota Gorontalo Kesulitan Distribusi Air Bersih | |---| | Sudah 3 Bulan Petani Gorontalo Ini Alami Kesulitan Irigasi Sawah | |---| | BMKG Prediksi Musim Kemarau Berlanjut hingga November 2023 | |---|
This is a summary. Read the full article at the original source.
Read full article at tribunnews
