Top·

Respons arahan Presiden, BRIN akselerasi teknologi air berbasis riset

Respons arahan Presiden, BRIN akselerasi teknologi air berbasis riset

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat penyediaan teknologi air untuk menghadapi dampak perubahan iklim, ...

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat penyediaan teknologi air untuk menghadapi dampak perubahan iklim, dalam rangka menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto. Kepala BRIN, Arif Satria dalam keterangan di Jakarta, Jumat, memperkenalkan berbagai teknologi hasil riset, sebagai solusi ilmiah untuk menjamin ketersediaan air bagi masyarakat, pertanian, industri, hingga penanggulangan bencana melalui pendekatan yang mencakup seluruh siklus hidrologi, mulai dari atmosfer, daratan, hingga kawasan pesisir dan laut. "Keberlanjutan peradaban kita bergantung pada kemandirian dalam mengelola air. Teknologi yang dihadirkan BRIN memadukan keunggulan sains dasar dengan aplikasi praktis untuk memastikan setiap tetes air baik dari awan, celah bebatuan, maupun samudera dapat dioptimalkan bagi kesejahteraan masyarakat. Inilah wujud nyata Indonesia tangguh air menuju Indonesia Emas 2045," katanya. Baca juga: PT PAL dan BRIN perkuat teknologi hidrodinamika lewat kolaborasi riset Arif menyebut berbagai teknologi yang ditawarkan, antara lain Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang mengintervensi proses mikrofisika awan menggunakan beragam metode penyemaian, mulai dari pesawat terbang, armada drone, roket, hingga Ground Base Generator. Selanjutnya, adalah eksplorasi speleologi karst dan air tawar lepas pantai (OFG). Arif menyebut teknologi ini bisa mengekstraksi air hujan yang meresap ke dalam tanah karst bergerak melalui rongga-rongga batuan yang bertindak sebagai filter alami, menghasilkan aliran air yang jernih dan stabil. Ketiga, jelas Arif, yakni teknologi nuklir untuk membaca sidik jari air dan resonansi magnetik bumi. Teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi adanya molekul air yang menyimpan sidik jari alami berupa isotop (seperti 18O dan 2H) yang merekam elevasi, temperatur, dan curah hujan. "BRIN juga memanfaatkan Nuclear Magnetic Resonance (NMR) permukaan. Alat senilai Rp15,8 miliar ini menggunakan medan magnet bumi untuk mendeteksi sinyal inti hidrogen dalam air tanah secara langsung," ujar Arif. Keempat, lanjut dia, yakni teknologi desalinasi air laut untuk kawasan pulau kecil dan pesisir, dimana BRIN menghadirkan sistem desalinasi air laut berkapasitas komunal hingga industri (5.000 hingga lebih dari 20.000 liter/hari). Kelima, kata Arif, yakni teknologi bernama Air Siap Minum (Arsinum) yang merupakan inovasi andalan untuk mengolah air marjinal, seperti air gambut pesisir, air keruh, dan air tanah dengan kandungan zat besi, mangan, serta air dengan tingkat kesadahan tinggi. Baca juga: BRIN kembangkan teknologi pembersih air tercemar limbah logam berat Baca juga: Jaksel manfaatkan teknologi mitigasi banjir untuk pantau tinggi air Keenam, lanjut dia, BRIN menghadirkan teknologi Panen Air Hujan dan Instalasi Pengolah Air Wudlu. BRIN juga menghadirkan teknologi tepat guna untuk fasilitas umum melalui sistem pemanenan air hujan dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal) domestik. "Telah diuji coba di Masjid Agung Wonosari, Gunung Kidul, sistem ini menghasilkan air olahan stabil yang dapat dimanfaatkan kembali, menjadikannya solusi hemat energi dan ramah lingkungan yang minim residu lumpur," ucap Arif. Melalui langkah tersebut, Arif menegaskan BRIN berkomitmen untuk memperkuat kapasitas Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis air yang diperkirakan akan semakin meningkat akibat perubahan iklim. Pewarta: Sean Filo Muhamad Editor: Endang Sukarelawati Copyright © ANTARA 2026

This is a summary. Read the full article at the original source.

Read full article at antaranews