Saham Bank Berbalik Melemah, Aksi Profit Taking Bayangi Prospek Pekan Depan

Saham-saham sektor perbankan yang sempat menjadi motor penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan berbalik tertekan
Reporter: Aura Putri | Editor: Handoyo KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham-saham sektor perbankan yang sempat menjadi motor penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan berbalik tertekan pada penutupan perdagangan. Aksi ambil untung (profit taking) serta masih derasnya arus jual investor asing membuat saham bank-bank berkapitalisasi besar kembali berada di zona merah. Pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berada di level Rp 6.275 per saham. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 1% menjadi Rp 2.960, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 5,71% ke Rp 4.130, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 2,22% ke Rp 3.520, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turun 4,37% menjadi Rp 1.205 per saham. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pergerakan saham perbankan sepanjang pekan ini berlangsung cukup fluktuatif. Pada awal pekan, sektor perbankan menjadi salah satu penopang utama penguatan IHSG setelah pelaku pasar menyambut positif keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. BI-Rate Bertahan, Saham Bank Sempat Menguat Menurut Nafan, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan memberikan kepastian bagi pasar terhadap prospek stabilitas suku bunga serta menjaga kualitas aset perbankan. Baca Juga: Dugaan Pelanggaran Penagihan, OJK Panggil Manajemen Kredivo dan KrediFazz "Investor merespons positif keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Keputusan tersebut memberikan kepastian terhadap prospek stabilitas suku bunga dan kualitas aset perbankan," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (24/7/2026). Meski demikian, setelah mencatat kenaikan dalam beberapa sesi sebelumnya, saham-saham bank besar mulai terkoreksi akibat aksi profit taking. Tekanan juga datang dari investor asing yang masih mencatatkan net sell di pasar saham domestik. Nafan menilai pelemahan tersebut lebih dipengaruhi faktor teknikal dan rotasi sektor ketimbang perubahan pada fundamental industri perbankan. Fundamental sektor ini masih dinilai solid dengan dukungan pertumbuhan kredit yang tetap positif, kualitas aset yang terjaga, serta ekspektasi pertumbuhan laba emiten yang masih cukup baik. Technical Rebound Berakhir, Investor Mulai Realisasi Keuntungan Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan melihat pergerakan saham perbankan sepanjang pekan cenderung mixed sebelum akhirnya melemah pada akhir pekan. Ia menjelaskan, reli saham bank dalam beberapa pekan terakhir didorong oleh valuasi yang relatif murah, ekspektasi membaiknya kinerja semester I-2026, serta stabilnya nilai tukar rupiah yang mampu bertahan di bawah level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat. Selain itu, keputusan BI mempertahankan BI-Rate juga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap kenaikan biaya dana (cost of fund) maupun perlambatan pertumbuhan kredit. Namun, Ekky menilai penguatan saham perbankan sebelumnya lebih didominasi oleh faktor teknikal. Baca Juga: Kredit Bank Saqu Tumbuh 37,4% di Juni 2026, Nasabah Digital Tembus 3,8 Juta "Namun, kenaikan saham bank sebelumnya memang masih lebih banyak bersifat technical rebound. Jadi, setelah mengalami kenaikan cukup signifikan dari area terendah, wajar apabila terjadi aksi realisasi keuntungan," ujar Ekky kepada Kontan, Jumat (24/7/2026). Laporan Keuangan Semester I Jadi Penentu Arah Memasuki pekan depan, Ekky memperkirakan saham sektor perbankan masih akan bergerak fluktuatif. Meski demikian, prospek fundamental industri tetap positif seiring dimulainya musim laporan keuangan semester I-2026. Salah satu sentimen positif datang dari kinerja PT Bank Mandiri Tbk yang membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 30,4 triliun pada semester I-2026 atau tumbuh 24,4% secara tahunan. Di sisi lain, penyaluran kredit bank only meningkat 19,9% menjadi Rp 1.592 triliun. Meski demikian, penurunan net interest margin (NIM) masih menjadi faktor yang perlu dicermati investor. The Fed dan Harga Minyak Jadi Sentimen Utama Selain kinerja emiten, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah sentimen global pada pekan depan. Salah satu agenda utama adalah rapat kebijakan moneter The Federal Reserve pada 28–29 Juli 2026 yang diperkirakan akan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga Amerika Serikat di tengah risiko inflasi. Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah Brent yang kembali menembus level US$ 100 per barel juga menjadi perhatian pasar. Harga minyak yang terus meningkat berpotensi mendorong tekanan inflasi global, memicu kenaikan imbal hasil obligasi (yield), serta memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan aliran dana asing ke pasar negara berkembang. Baca Juga: Lembaga Keuangan Makin Mengandalkan Data, CLIK Memperkenalkan Propensity Score "Jadi, selama Rupiah mampu bertahan di bawah Rp 18.000, harga minyak tidak terus meningkat, dan investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih, saham perbankan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan. Sebaliknya, apabila harga minyak terus naik dan Rupiah kembali melemah, investor berpotensi kembali melakukan rotasi ke sektor berbasis komoditas," katanya. Rekomendasi Saham Perbankan Untuk strategi investasi, Ekky merekomendasikan Trading Buy atau Buy on Weakness pada saham BBCA dengan target harga Rp 6.800–Rp 7.000 per saham. Sementara itu, BMRI juga direkomendasikan Trading Buy atau Buy on Weakness dengan target Rp 4.800–Rp 5.000 per saham. Adapun BBRI direkomendasikan Trading Buy dengan target harga Rp 3.200–Rp 3.300 per saham. Menurut Ekky, BBCA tetap menjadi pilihan yang lebih defensif karena didukung struktur dana murah (CASA) yang kuat dan kualitas aset yang terjaga. Di sisi lain, BBRI masih menarik dari sisi valuasi serta memiliki peluang pemulihan kinerja, meski risikonya lebih tinggi karena sensitif terhadap kualitas kredit segmen mikro dan kenaikan cost of credit. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
This is a summary. Read the full article at the original source.
Read full article at kontan_co_id
