SPBU Pertamina 64.781.03 Perketat Pengawasan, Tangki Modifikasi Tak Lagi Dilayani

Ketegasan dalam mengawal penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi agar tepat sasaran terus digalakkan di tingkat hilir.
SPBU Pertamina 64.781.03 Perketat Pengawasan, Tangki Modifikasi Tak Lagi Dilayani Ketegasan dalam mengawal penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi agar tepat sasaran terus digalakkan di tingkat hilir. Ringkasan Berita: - SPBU ini secara konsisten memperketat pengawasan terhadap setiap kendaraan yang masuk ke jalur pengisian, khususnya roda dua. - Langkah berani ini diambil untuk memutus mata rantai praktik pelangsiran Pertalite menggunakan kendaraan bertangki modifikasi ilegal, sekaligus mengurai problem klasik berupa antrean panjang yang kerap dikeluhkan konsumen reguler. TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Ketegasan dalam mengawal penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi agar tepat sasaran terus digalakkan di tingkat hilir. Salah satunya ditunjukkan oleh manajemen Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina 64.781.03 yang berlokasi di kawasan Pontianak Kota. SPBU ini secara konsisten memperketat pengawasan terhadap setiap kendaraan yang masuk ke jalur pengisian, khususnya roda dua. Langkah berani ini diambil untuk memutus mata rantai praktik pelangsiran Pertalite menggunakan kendaraan bertangki modifikasi ilegal, sekaligus mengurai problem klasik berupa antrean panjang yang kerap dikeluhkan konsumen reguler. Supervisor SPBU Pertamina 64.781.03, Taang, mengungkapkan bahwa komitmen jajarannya dalam menyaring kendaraan kini mulai membuahkan hasil positif. Praktik curang dengan memanfaatkan kompartemen bahan bakar rakitan perlahan mulai lenyap dari area SPBU tersebut. "Alhamdulillah kalau di SPBU ini motor tangki siluman sudah tidak ada. Baik motor maupun mobil semuanya menggunakan tangki standar. Dari awal memang sudah kami tegaskan bahwa yang boleh dipergunakan hanya tangki standar," kata Taang saat diwawancarai tribunpontianak.co.id di Jl. Kh. A. Dahlan, Pontianak Kota, Sabtu 18 Juli 2026. Pernah Kecolongan, Kini Langsung Diberi Teguran Keras Sterilnya SPBU 64.781.03 dari keberadaan para pelangsir bukan terjadi secara instan. Taang mengakui, pada masa-masa sebelumnya, beberapa oknum pengendara bermotor tangki jumbo sempat mencoba peruntungan menguras Pertalite di tempatnya. Baca juga: Pengecer BBM Eceran di Pontianak Berharap Pembatasan Pembelian Pertalite Tidak Memberatkan Namun, respons tegas dari operator di lapangan yang langsung melakukan penolakan dan memberikan edukasi keras membuat para spekulan tersebut jera dan memilih angkat kaki. "Awal dulu pernah ada motor bertangki besar, tapi kami tegur. Setelah itu tidak datang lagi. Kalau pun ada, paling kami beri sekitar satu liter agar bisa kembali, selebihnya tidak kami layani. Memang ada yang kecewa, tapi mereka harus mengikuti aturan," ujarnya. Komparasi Durasi Pengisian yang Memicu Kemacetan Bukan tanpa alasan pihak SPBU bersikap kaku terhadap regulasi ini. Berdasarkan kalkulasi teknis di lapangan, keberadaan motor bertangki siluman terbukti memakan durasi pengisian yang berkali-kali lipat lebih lama dibanding motor standar pabrikan. Hal inilah yang memicu efek domino berupa sumbatan antrean hingga ke bahu jalan raya. "Kalau konsumen biasa paling isi tiga sampai empat liter. Tapi kalau tangki siluman bisa sampai 15 liter, sehingga proses pengisiannya lebih lama dan membuat antrean," jelas Taang secara rinci. Hingga saat ini, manajemen memastikan bahwa pasokan dan distribusi BBM di SPBU Pertamina 64.781.03 berada dalam kondisi aman dan berjalan sesuai dengan koridor hukum yang berlaku. | Pengecer BBM Eceran di Pontianak Berharap Pembatasan Pembelian Pertalite Tidak Memberatkan | |---| | Operator SPBU Tegaskan Motor Bertangki Modifikasi Ditolak Isi Pertalite | |---| | Polisi Peringatkan Masyarakat Tak Gunakan Tangki Modifikasi untuk Beli Pertalite | |---| | Cegah Konflik Sosial di Toba, Polres Sanggau Dorong Penguatan Komunikasi Masyarakat dan Perusahaan | |---| | Demi Pelayanan Gizi yang Lebih Baik, Program MBG Singkawang Gelar Rapat Koordinasi dan Evaluasi | |---|
This is a summary. Read the full article at the original source.
Read full article at tribunnews
